Negeri Annora (Cahaya Di Delapan Arah Mata Angin) Part 1

Purnama tak lagi terlihat bundar. Kedua bagian tepinya perlahan menghilang beberapa busur derajat. Langit memang masih terlihat luas dengan hamparan bintang yang menganak sungai. Jauh dari pandanganku terlihat ramai. Begitukah rupa orang-orang yang sedang berbahagia? Tanyaku.
Aku sendiri tersudut dalam sepi. Menikmati malam di veteran monumen. Kelap-kelip lampu, indah menghiasi sebuah pohon yang berada persis di depanku. Di sampingnya, suara guyuran air mancur menambah ritme yang syahdu. Pukul 12 malam lonceng berbunyi kencang. Paduan suara dari gedung sebelah sedikit menghiburku. Ini adalah malam hari besar Natal bagi yang menyakininya.
Dalam dunia dongeng, akan ada sinterklas yang terbang di langit bersama rusa-rusanya untuk membagikan kotak hadiah untuk anak-anak yang menganut agama tersebut. Aku bahkan bukan penganutnya, dan aku tidak mengharapkan hadiah darinya, tapi aku terus saja memandangi bulan itu. Mungkin aku akan melihat dongeng itu secara nyata walaupun terlalu absurd.
Kotak musik pemberian orang tuaku, 4 tahun yang lalu, aku ambil dari ranselku. Aku menjaganya dengan baik dan sekarang masih bisa bersuara dengan indah. Ini pertama kalinya setelah kedua orang tuaku tiada, aku mendengarkannya kembali. Perlahan kuputar mesin pada bagian belakang untuk menyalakannya. Boneka wanita berbaju balet itu kini menari-nari riang di depanku. Aku selalu menikmati suasana seperti ini. Suasana di mana aku bisa tersenyum menangis tanpa diketahui orang lain. Aku merindukan Ayah Ibu yang sudah berada jauh di alam lain. Aku merindukan pelukan Ayah dan Ibu ketika aku merasa lemah. Tapi sekarang, tempat nyaman itu sudah hilang. Kini, aku hidup seorang diri di sudut kota seramai ini.
Burung-burung dara yang biasa menemaniku di monument ini, kini tak ada satupun terlihat. Mungkin dia sedang pulang ke rumah masing-masing untuk berpesta Natal malam ini. Terpaksa biji-biji jagung yang sudah kubawa ini akan kembali aku bawa pulang. Aku akan kembali esok. Mungkin esok hari burung-burung itu akan kembali meramaikan tempat ini. Aku bersiap pulang. Kuayun kakiku untuk pergi. Sekelebat cahaya putih menampakkan diri dan kemudian berpendar dari penglihatanku. Mataku terbelalak kaget.
Aku pasti berhalusinasi.
Kembali aku menjauh pergi. Menyusuri tiap lorong-lorong kota yang nampak lenggang dan tak berpenghuni. Aku merasakan sebuah keganjilan. Seperti ada yang sedang membuntutiku. Berkali-kali aku menengok belakang untuk memastikannya. Tidak ada apa-apa. Namun hatiku tidak bisa dibohongi. Aku semakin penasaran. Kusandarkan tubuhku pada tembok ruko yang sudah tutup malam itu. Seperti seorang preman jalanan yang sedang menanti mangsanya. Mataku menatap jeli ke arah belakangku. Lima menit berlalu tidak ada tanda-tanda.
Mungkin hanya perasaanku saja.
Semakin cepat aku mengayun kakiku. Perasaan takut mulai muncul. Aku semakin bergegas untuk segera menuju rumah dengan kepala menunduk. Bahkan lingkungan komplek malam ini terlihat sepi. Padahal seharusnya ramai karena mereka sedang merayakan Natal. Langkahku terhenti ketika sesosok hewan seperti rusa mendekatiku. Kakiku menempel kuat pada aspal tak bisa digerakkan. Aku membisu kaku. Aku pasrah dengan apa yang akan terjadi padaku. Mungkin hewan itu akan menyerudukku dengan tanduknya. Tapi tunggu. Rusa tidak akan memiliki satu tanduk yang berada di ubun-ubun kepalanya. Ia berjalan pelan mendekatiku. Tubuhnya putih menyala dan menghasilkan sinar ungu. Mataku terpejam rapat.
Ah mungkin aku akan segera menyusul Ayah dan Ibu. Tapi aku belum siap. Aku masih mempunyai satu keinginan yang belum terlaksana. Pikiranku tak karuan. Mungkin aku harus menghitung mundur untuk melepas nyawa ini dariku. Aku akan menyusulmu Ayah, Ibu…. Lima, empat, tiga dua…
Belum sempat hitungan terkhir kuucap, hewan itu berkata lirih.
“Aurelia Kaitlyn Madlynson…”
Aku terperangah. Tepat di depan mataku ia bediri. Aku yakin bahwa dia adalah rusa. Namun tidak dengan tanduk satu yang menjulang. Tidak ada rusa bertanduk satu di dunia ini.
Dia terlihat baik dan tak ingin membunuhku.
“Kaukah yang berbicara itu?”
“Ya, aku.”

Aku menganggap diriku telah gila karena bisa berbicara dengan seekor hewan. Berusaha mengetuk-ngetuk kepalaku untuk menyakinkan hal ini. Dan benar. Ini adalah nyata. Ia masih berada di depan dan menatapku. 

........................

2 comments:

Anonymous said...

wah epsiodenya akan panjang nih,,keep spirit um... :D

joo said...

lanjutkan Ummu, keren. :)
silahkan mampir ke blog q juga catatankostkuburan.blogspot.com