Negeri Annora (Cahaya Di Delapan Arah Mata Angin) Part 2

“Siapa kau? Dalam duniaku tidak ada hewan yang bisa berbicara. Kecuali bila orang itu telah gila. Atau memang aku sudah gila? Tapi tunggu. Apakah mungkin kau seorang penyihir”
“Panggil saja aku Angelina. Bergerak bebaslah sekarang. Aku tidak akan menyakitimu.” Ujarnya.
Aku yakin dia seorang penyihir yang menjelma menjadi rusa bertanduk satu. Hanya seorang penyihir yang mampu membuatku diam tak bia bergerak tanpa alat peraga apapun.
“Usiamu sudah 17 tahun sekarang. Tepat di hari ini. Itu berarti sudah saatnya kau mengetahui segalanya.” Paparnya. “Nada dalam kotak musik itu yang telah mengahdirkanku ke dunia ini.”
Hari ini memang hari ulang tahunku. Dan di hari ini, 4 tahun yang lalu Ayah Ibu memberiku kotak musik dan setelah hari itu pula mereka meninggalkanku sendirian. Semenjak mereka tiada, aku tidak mau lagi mendengarkan kotak musik ini. Namun entah angin apa atau mungkin sudah menjadi suratan takdir, aku mengambilnya kembali dari gudang penyimpanan.
“Apa yang kau maksud?”
“Aku akan memberitahumu segalanya yang belum pernah kamu ketahui sebelumnya. Tapi bisakah kau tunjukan lukisan istana milik orang tuamu?”
“Lukisan?”
Aku samar-samar pernah melihat dan mengetahui tentang lukisan tersebut. Kuingat-ingat kembali di mana aku pernah melihatnya. Ingatanku menuju ke sebuah ruang bawah tanah yang menjadi tempat penyimpanan barang-barang bekas. Di salah satu sudut ruangan, terdapat benda yang ditutupi oleh kain hitam oleh Ayah. Dan tiap kali aku ingin melihatnya, Beliau selalu melarangku. Semakin dilarang, itu membuat anak seusiaku semakin penasaran. Diam-diam aku membukanya saat ke dua orang tuaku sedang terlelap tidur. Aku yang tak tahu menahu soal lukisan hanya menelan ludah kecewa saat melihatnya kukira yang disembunyikan Ayah adalah sesuatu hal yang memang sangat berharga.
            “Kau bisa ikut denganku.” Segampang itu aku mempercayai hal yang kuanggap mustahil ini. Aku membawa rusa putih itu masuk dalam rumahku. Untunglah komplek rumah sepi tak berpenghuni sehingga dengan leluasa aku bisa berjalan tanpa harus takut diketahui tetangga. Sepeninggalan ke dua orang tuaku, hidupku semakin kacau. Aku tidak memiliki banyak teman seperti normalnya remaja-remaja sesusiaku. Bagi teman-temanku, aku ini wanita aneh yang sinting. Mereka tak mau berteman denganku. Dandananku dianggap aneh dengan rambut berkepang dua dengan kacamata tebal yang membantuku untuk melihat. Hal lain yang membuat temanku iri adalah IQ ku di atas kemampuan rata-rata. Aku sering mendapat nilai A. Aku terasingkan. Namun kupukir, aku memang tak membutuhkan mereka. Aku menyombong.
Hanya Kakek dan Nenek Margaret tetanggaku yang mau berteman denganku. Walaupun bukan Kakek dan Nenek kandung, namun aku telah menganggapnya keluarga sendiri. Hanya mereka yang sudi berbicara dan mendengarkan semua ceritaku. Semua biaya hidupku diurus oleh pengacara kepercayaan Ayahku, Pak Willson. Kedua orang tuaku meninggalkan aku dengan kekayaan yang dimilikinya. Semua kekayaan itu menjadi milikku karena aku adalah anak tunggal. Namun sebelum umurku genap 17 tahun, semua pengaturan keuangan sepenuhnya diatur Pak Willson. Dan beliau juga sama pedulinya terhadapku seperti Kakek dan Nenek Margaret.  
Aku membawa Angelina ke depan lukisan yang dimaksud. Kain hitam penutup lukisan tersebut kusibak.
“Lukisan inikah yang kau maksud Angelina?”
“Ya. Benar ini.”
Lukisan besar itu bergambar istana megah dibentengi dengan gerbang besi. Pintu gerbang tersebut terkunci rapat oleh besi-besi yang terangkai seperti tumbuhan markisa yang saling merambat dan menyatu.
“Ambilah kotak musik milikmu. Kemudian putarlah.” Perintah Angelina.
            Aku menurutinya. Kotak musikku berbunyi sangat nyaring. Rangkaian besi yang semula saling terkait seperti tumbuhan merambat, kini besi-besi itu saling menarik diri. Pintu gerbang terbuka. Aku ternganga kaget. Seribu pertanyaan mulai memenuhi otakku. Aku merasa aku semakin gila kali ini.
Bagaimana bisa! Ini hanya sebuah lukisan.
Aku masih saja tak mempercayai apa yang baru suaja terjadi.
“Katakan padaku Angelina. Ini begitu gila. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi.”
“Ikuti saja aku.” Angelina kembali memerintah.
Pintu gerbang dalam lukisan itu terbuka lebar. Aku membuntuti Angelina dari belakang. Keterkejutanku tidak berhenti sampai di situ. Saat langkah Angelina melewati gerbang, sosok rusa putih bercula satu itu menghilang dan tergantikan oleh perempuan berparas cantik dengan gaun anggunnya bermahkotakan berlian di kepalanya.
“Kau akan terbiasa oleh hal-hal magis yang tak pernah ada di duniamu Aurel. Ini wujudku yang sebanarnya.”
“Kau seorang puteri?”
“Ya. Akulah pemimpin Negeri Annora ini. Inilah Negeri seribu cahaya dengan segala ketidakmungkinan menjadi mungkin. Kau hanya perlu beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Dulu, kami hidup dengan damai. Namun kehadiran Ratu Eranthe, ketentraman tanah Annora ini berganti menjadi lumbung kekhawatiran. Di siang hari, wujud kami seperti ini, sebagai manusia pada umumnya. Namun saat petang tiba, ketika cahaya telah hilang, kami semua berubah wujud menjadi seekor rusa. Bertahun-tahun kami hidup seperti ini. Negeri dua dunia, begitulah orang-orang menyebutnya. Sebagai seorang pemimpin, hal ini menjadi pukulan hebat untukku. Aku belum bisa menyelamatkan rakyatku.”
“Lalu?”
“Inilah dunia yang disembunyikan oleh kedua orang tuamu. Mereka berjanji akan memperlihatkan dunia ini padamu setelah usiamu 17 tahun. Namun sayang, mereka telah tiada. Ayah dan Ibumu adalah orang yang paling aku percayai. Merekalah panglima terkuat yang dimiliki negeri ini.” Angelina mendesah, kemudian melanjutkan ceritanya. “Sebelumnya aku mewakili seluruh rakyatku, untuk meminta maaf padamu. Ayah dan Ibumu tewas dalam pertempuran melawan Ratu Eranthe penguasa belahan bumi Utara. Kami tak bisa menyelamatkan Ayah dan Ibumu. Maafkan kami.”
Aku terhuyun-huyun mendengarnya. Angelina menangkap dan menyandarkanku. “Itulah peperangan. Ada kekalahan dan ada juga kemenangan.”
Yang kuketahui, Ayah dan Ibu meninggal akibat luka tembak misterius yang diduga adalah berasal dari teror seseorang yang mengenal Ayahku. Mereka iri dengan kesuksesan Ayah. Namun kebenaran telah terungkap. Aku salah. Duka 4 tahun lalu, terasa kembali.
“Negeri Annora memiliki 8 benteng pertahanan di segala penjuru arah mata angin. Masing-masing memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Dua benteng yang di duduki Ayah dan Ibumu telah direbut oleh Ratu Eranthe. Aku dan rakyatku berharap banyak padamu. Bantu kami merebut kembali benteng itu.”
            “Kau akan membuatku sebagai umpan seperti Ayah dan Ibuku?”
“Bukan. Sepertinya kau salah paham.”
“Lantas?”


…………………..

No comments: